Membedah Arti Istigfar untuk Terapi Asam Lambung

Posted on

Obat asam lambung alami – Pada artikel sebelumnya, kami sudah share artikel terapi pengobatan asam lambung dengan istigfar. Nah, kami akan memposting secara berkala, agar kita semua bisa mendapatkan manfaat yang lebih. Kali ini adalah edisi kedua dari tulisan mengenai asam lambung. Obat asam lambung alami ini, ditulis oleh orang yang kompeten. Sekarang mari kita simak.

obat asam lambung naik

Dalam edisi ini, obat asam lambung alami yang kami hadirkan, tidak akan dibahas panjang lebar. Apalagi secara medis. Namun kami akan ulas secara spiritual. Terutama dengan ulasan ilmiah islamiyah. Oke, tidak usah panjang lebar, mari kita laangsung saja ke intinya agar lebih cepat terealisasi.

Mengobati Asam Lambung dengan istigfar

Secara pasti, Allah menurunkan sebuah penyakit disertai dengan hikmah dan obat. Hanya saja, manusia yang tidak bisa melihat dua hal tersebut. Saya sendiri, termasuk orang yang imannya sering naik turun. Dulu, dulu sekali, sekitar 10 atau 13 tahun yang lalu, saya pernah merasakan penyakit aneh. Tidak bisa dideteksi secara medis, melainkan ahli jiwa yang bisa merasakannya.

Saya selalu merasakan De Ja Vu, dan juga perasaan tidak enak. Hampir dalam semua kondisi, saya merasakannya. Akibatnya, saya paranoid dengan manusia. Hampir 1 tahun saya mengurung diri. Kadang, kalau berjalan sendiri, saya merasa harus sambil ngomong. Iya, ngomong sendiri. Tanpa ada lawan bicara. Saya merasa normal, tapi tubuh luar saya, tidak bisa dikendalikan. Ada yang menyebut saya gila, ada yang menyebut saya penyakit ini dan anu. Ah, sangat memusingkan.

Sebuah ilham datang dari Allah. Suatu sore, saya terbersit untuk memakai pakaian yang lebih menutup aurat. Iya, walau saya lelaki, saya suka banget dengan pakaian yang orang sebut, dengan budaya Timur-tengah.

Dari sana, saya merasakan banyak perubahan. Yang pertama kali kembali adalah rasa percaya diri. Kemudian saya mulai berproses menuju yang lain. Ajaib, ketika saya berusaha untuk belajar alquran, salat dan mempelajari semua adab yang diajarkan agama saya, Islam, pikiran saya perlahan mulai membaik. Dan saya mulai bisa mengendalikan diri. Yang tersisa adalah pikiran kadang seperti blank. Iya, gelap dan seperti di dunia lain. Kalau sudah begitu, saya pun harus mengingat kembali semua yang sudah saya lakukan.

Selain itu, saya memiliki dua prasangka. Atau yang dikenal dengan Delusi Referensi. Sangat menyiksa. Saya butuh proses sampai 5 tahun untuk menyembuhkannya. Tanpa bantuan dokter, psikiater atau ahli jiwa atau apalah. Semuanya saya lakukan dengan terapi ringkas dan ringan. Yakni membaca istigfar.

Sebagai orang yang lahir dari kalangan awam soal agama, tentu saja, saya tidak kenal lebih dalam soal istigfar atau yang lainnya. Saya kenal istigfar ya, minta ampun. Sudah. Tanpa ada penjelasan lebih rinci arti dan tujuan, apalagi manfaatnya. Proses 5 tahun pertama memang penuh terjal, kemudian saya gabungkan dengan menghafal alquran. Nah, istigfar dan hafalan sukses membuang delusi referensi dari kepala saya.

Istigfar adalah sebuah lafadz yang dimaksudnya untuk meminta ampun atas dosa kepada Allah. Saya sendiri mengamalkan istigfar sebagai daya sembuh dari kebiasaan buruk dan juga penyakit yang saya alami. Memang bagi beberapa orang, terkesan remeh. Dan tidak masuk akal. Namun sebenarnya logis banget. Arti istigfar sendiri memiliki banyak macam. Tapi inti atau prinsipnya hanya satu saja: meminta ampun kepada Allah.

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS.Al-anfaal:33)

“Allah telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya).” (HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).

Nabiyullah Muhammad ‘alaihi Salatu Wassalam, adalah orang yang paling banyak membaca istigfar selama beliau hidup. Bahkan, banyak catatan sejarah yang berisi pengakuan sahabat atau penuturannya sendiri, mengenai jumlah beliau beristigfar dalam sehari.

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)

Dalam riwayat lain diterangkan

Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,

‘Robbigfirliy wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’

[Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 556)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *